Life. Inspiration. Perseverance. Comedy. Love

The art of texting

In rant on 25/07/2013 at 16:12

Banyak orang mengeluh tentang perilaku anak-anak muda jaman sekarang yang memiliki kebiasaan menyingkat-nyingkat kata atau istilahnya menjadi alay. Bahkan ada yang bilang kebiasaan itu seperti kebiasaan orang yang berpendidikan rendah. Namun coba simak TEDTalks mengenai texting yang dianggap sebagai miraculous thing. Texting dianggap sebagai fingered speech dan merupakan salah satu evolusi penting dalam berbahasa tulisan.

Setelah menonton ini, ada pandangan baru dalam diri gue. Sebenarnya mungkin yang disebelin sama orang bukan masalah teksnya, tapi isinya. Dalam artian, kalau ditulis dengan normal juga (tidak disingkat-singkat), masih membuat kita geregetan pengen bilang, “Plis deh ah.”

Ada juga keunikan tersendiri dalam menerjemahkan apa yang dimaui oleh pengirim dalam teks singkat ataupun di twitter. Seperti ada yang menyingkat photog untuk photographer  dan obvl (Obviously). Hemat kan? Buat apa buang-buang energi untuk mengetik 12 huruf kalau setengahnya aja sudah cukup. Contohnya ini ada kutipan dari buku NH Dini yang disingkat.

“ntuk mat, orang tdak mmrlkn kpandin mapn bkt yng istmw. Sp pun dapt mat swkt-wktu, dengn cr yng dikhndk ata dplhnya. Sblkny, untk hdp, orng membthkn banyk kbernn, keckpn yng kdng-kdang lr bs. Stp hr bnyk orng yng mt, dngn mdh tnp usah at dya upay. Tap stip har berjut-jt orng brjung dngn ssh pyh untk hdp.”

Masih bisa menangkap maksudnya? Jadi cara penyampaian dengan texting bisa menjadi suatu seni tersndr dlm mnlis. Shg sblm org tljr anti thp kbiasaan menyngkt, mngkn bs diliat sbg sst seni br yg unik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.