Life. Inspiration. Perseverance. Comedy. Love

Archive for September, 2011|Monthly archive page

Andai Aku Bisa Membungkus Ciumanmu

In poem on 26/09/2011 at 18:21

Andai aku bisa membungkus ciumanmu,
yang kau usapkan dengan lembut di bibirku,
dan harum mint yang ada dalam desahmu,
mengacaukan nalar dan persepsi waktu,
detik-detik yang merentang sampai keabadian

dan kemudian saat kau membuka matamu,
menatapku erat dengan mata indah itu,
sambil bertanya, “bagaimana rasanya?”
Aku menyibakkan poni rambut yang menutupi keningmu,
dan tersenyum membentuk lesung pipit yang kamu sukai,
“Aku menyukainya, tapi mengapa kita berhenti?”
Kamu hanya tertawa, dan kita berdua pun memejamkan mata kembali,
membiarkan kedua bibir bertemu dan bercengkrama.

Andai aku bisa membungkus ciumanmu,
akan aku simpan dalam botol anggur termahal,
dan terus membuatku mabuk akan rindu dan sayangmu,
lalu masuk ke pusaran waktu, aku akan kembali ke masa itu,
mencoba mengingat detail yang tertinggal.
Suara-suara samar dan pelan di kejauhan, halusnya tanganmu saat kusentuh dengan jemariku, dan debar jantung yang bertambah cepat setiap mikro detiknya.

Dan rinduku akan membuncah dengan hebatnya,
dan kuteriakkan dalam kesunyian,
“AKU INGIN KAMU ADA DI SISIKU!”
setelah aku mencicipi rasa hasratmu,
yang kusimpan dalam botol anggur termahal,
jika aku bisa membungkus ciumanmu.

Jadilah

In rant on 22/09/2011 at 22:45

Jadilah malaikat dan jadilah setan
Jangan pernah biarkan orang mencapmu salah satu dari itu
Ada kebencian dalam dirimu, dan ada kebaikan dalam dirimu
Menjadi salah satu, boleh jadi membosankan.

Jadilah protagonis dan antagonis
Lemparlah seseorang dengan balon air
Dan di saat lain berikan minuman bagi yang kehausan
Pinjamkan mainanmu pada adik, dan curi mainan kepunyaan kakak

Iyakan permintaan, dan tolak permintaan
Yin dan Yang.
Gelap dan Terang.

Jangan khawatir bila orang bilang,
“Tidak ada yang bisa menebak kamu.”
Bentuklah dirimu menjadi teka-teki.
Sebuah enigma.

Kejutkan orang-orang di sekitarmu dengan paradoks yang kamu punya.
Tapi terutama kejutkan dirimu sendiri.

Sehingga pada akhirnya,
kamu menyadari
hanya Satu yang Maha Tahu
menjadi Jawaban itu.

Puisiku di Buku Kepadamu, Pahlawanku

In works on 17/09/2011 at 06:42

Well, satu lagi kompilasi buku puisi dari nulisbuku.com yang berasal dari Bergerak Sastra.

Ada dua puisi gue di situ.

Makanya dibeli-beli yah ­čśÇ

Tentang The Tree of Life

In rant on 14/09/2011 at 21:34

Gol…gol…gol…ale…ale…ale… Lirik yang sangat catchy untuk The Tree of Life (itu The Cup of Life..woooii).

Jadi, The Tree of Life film pemenang Palm d’Or di Cannes telah menghabiskan 133 menit dalam hidup gue dalam bioskop, ditambah dengan ngebrowsing tentang The Tree of Life (film) di wikipedia, dan ngetweet tentang The Tree of Life.

Paling tidak gue sudah bersiap sebelum film dimulai, jadi tidak terlalu kaget. Persiapan termasuk membaca review tentang tree of life (15 menit dialog, 133 menit film), baca spoiler The Tree of Life, dan masih enggak mengerti.

Mungkin karena gue bego kali yah, tapi sepanjang film gue bertanya-tanya, saudara Jack yang mati pas di awal film tuh yang tengah atau yang bungsu? Yang tengah ternyata. Kemudian kisah tentang penciptaan alam semesta dan dinosaurus mirip seperti film dokumenter lain yang sudah dibuat berkali-kali sebelumnya.  Kisah tentang kehilangan anak juga sudah berkali-kali, begitu pula kisah tentang keluarga dengan orang tua yang keras juga, apalagi tentang kenakalan remaja.

Jadi apa yang baru yang ditawarkan The Tree of Life? Kalau menurut gue sih, enggak ada.

Intinya adalah, gue gak suka menonton film The Tree of Life karena setiap hari, gue juga suka mempertanyakan arti keberadaan gue seperti yang dijual di film itu. Buat apa gue menonton film tentang yang biasa gue pikirin. Tidak terlalu banyak berguna. Gue pengen ngelihat ide-ide baru buat gue ikut pikirin, bukan menyetujui apa yang gue pikirkan.

Bukan berarti The Tree of Life jelek. Adegan tentang Velociraptor yang penuh welas asih menurut gue menyentuh, terutama karena gue mengharap adegan penuh darah di situ =D

Baru kali ini gue nonton film di bioskop biasa (bukan festival film), di mana penontonnya keluar setelah setengah jam pertama.