Life. Inspiration. Perseverance. Comedy. Love

Garis Batas Keterlaluan

In rant on 15/01/2012 at 13:11

Kampanye Viral yang melibatkan peti mati dan kontainer sempat menghebohkan twitter. Banyak orang bilang tidak sepantasnya melakukan marketing semacam itu, tidak sesuai dengan norma yang berlaku di dalam masyarakat.

Tapi apakah benar demikian?

Sebagai seseorang yang sering dibilangin, “Wah, elu tuh kebangetan!” , sering gue bertanya, “Sebenernya di mana sih garis batas keterlaluan itu ?”

Bagi gue, mungkin kampanye viral semacam itu tidak keterlaluan. Contoh yang terakhir memang bikin khawatir, tapi pada akhirnya tidak ada yang benar-benar diculik kan? Apakah kita harus lebay?

Tapi tidak semua orang sama. Garis batas keterlaluan setiap orang berbeda-beda. Kita harus menghormati garis batas keterlaluan masing-masing orang, setelah tentu saja kita mengetahuinya. Maksud gue, kalau misalnya sudah tahu orangnya tersinggung kalau misalnya ngasih pakai tangan kiri, ya mbok jangan ngasih pake tangan kiri lagi (kecuali emang pengen menembus batas yah)

Well, itu semua proses. Menurut gue lebih baik meminta maaf daripada meminta ijin. Kadang menyesal juga sudah bertindak kelewatan terhadap orang-orang tertentu. Kadang juga merasa diperlakukan tidak adil sebagai orang yang garis batas keterlaluannya begitu longgar, kok bertemu dengan orang dengan garis batas keterlaluan begitu sempit.

Jadi, santai saja. Orang akan melewati garis batas keterlaluan yang kita buat dan kita juga akan melewati garis batas keterlaluan orang lain. Saling memaafkanlah. Toh, sama-sama bakalan meninggal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.