Life. Inspiration. Perseverance. Comedy. Love

Tentang The Tree of Life

In rant on 14/09/2011 at 21:34

Gol…gol…gol…ale…ale…ale… Lirik yang sangat catchy untuk The Tree of Life (itu The Cup of Life..woooii).

Jadi, The Tree of Life film pemenang Palm d’Or di Cannes telah menghabiskan 133 menit dalam hidup gue dalam bioskop, ditambah dengan ngebrowsing tentang The Tree of Life (film) di wikipedia, dan ngetweet tentang The Tree of Life.

Paling tidak gue sudah bersiap sebelum film dimulai, jadi tidak terlalu kaget. Persiapan termasuk membaca review tentang tree of life (15 menit dialog, 133 menit film), baca spoiler The Tree of Life, dan masih enggak mengerti.

Mungkin karena gue bego kali yah, tapi sepanjang film gue bertanya-tanya, saudara Jack yang mati pas di awal film tuh yang tengah atau yang bungsu? Yang tengah ternyata. Kemudian kisah tentang penciptaan alam semesta dan dinosaurus mirip seperti film dokumenter lain yang sudah dibuat berkali-kali sebelumnya.  Kisah tentang kehilangan anak juga sudah berkali-kali, begitu pula kisah tentang keluarga dengan orang tua yang keras juga, apalagi tentang kenakalan remaja.

Jadi apa yang baru yang ditawarkan The Tree of Life? Kalau menurut gue sih, enggak ada.

Intinya adalah, gue gak suka menonton film The Tree of Life karena setiap hari, gue juga suka mempertanyakan arti keberadaan gue seperti yang dijual di film itu. Buat apa gue menonton film tentang yang biasa gue pikirin. Tidak terlalu banyak berguna. Gue pengen ngelihat ide-ide baru buat gue ikut pikirin, bukan menyetujui apa yang gue pikirkan.

Bukan berarti The Tree of Life jelek. Adegan tentang Velociraptor yang penuh welas asih menurut gue menyentuh, terutama karena gue mengharap adegan penuh darah di situ =D

Baru kali ini gue nonton film di bioskop biasa (bukan festival film), di mana penontonnya keluar setelah setengah jam pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.